Kehamilan memang tak perlu dianggap menghambat. Kendati begitu, ada hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan selama ibu berbadan dua.

Menjaga kondisi janin dan diri sendiri selama hamil perlu dilakukansecara cermat. Terlebih bila kehamilannya tergolong berisiko tinggi, seperti memiliki riwayat hipertensi, preeklampsia, asma, atau kelainan jantung. Berikut adalah penjelasan Dr. Bambang Dwipoyono Sp.OG., dari RS Internasional Bintaro, Tangerang, Banten, yang mengungkapkan beberapa aktivitas yang perlu dicermati selama kehamilan.

NAIK PESAWAT TERBANG

Kalangan penerbangan internasional biasanya menerapkan aturan untuk tidak membolehkan wanita dengan kehamilan di atas 32 minggu ikut penerbangan jarak jauh. Contohnya, Jakarta-New York yang perjalanannya memakan waktu hingga 22 jam.
“Dalam penerbangan seperti ini, posisi penumpang, kan, hanya duduk dan ini yang akan memperbesar risiko terjadinya perdarahan, ketuban pecah, kontraksi, dan sebagainya,” papar Dwipoyono. “Apalagi perubahan tekanan dalam pesawat juga bisa ikut merangsang kontraksi, hingga berkemungkinan mempercepat persalinan.”
Penerbangan jarak jauh juga tidak dianjurkan bila ibu yang sedang hamil muda mengalami gangguan morning sickness. Terlalu lama berada dalam pesawat terbang akan memperberat kondisinya. Kecuali kalau penerbangannya hanya makan waktu 1-2 jam, dari Jakarta ke Surabaya atau dari Jakarta ke Bali, misalnya.
Bila usia kandungan masih di bawah 32 minggu dan kehamilannya normal, boleh-boleh saja, ibu bepergian dengan pesawat terbang. Itulah mengapa umumnya perusahaan penerbangan meminta surat keterangan mengenai kondisi dan usia kehamilan yang bersangkutan dari dokter kandungan. Malahan, beberapa perusahaan penerbangan tetap melakukan pemeriksaan medis terhadap ibu yang sudah membawa surat keterang an dokter.

NAIK ANGKUTAN UMUM

Selama hamil, boleh saja ibu menumpang angkutan umum. Toh, guncangan-guncangan kecil tak perlu kelewat dikhawatirkan karena rahim memiliki air ketuban yang berfungsi menetralisir guncangan biasa. Yang justru perlu dihindari adalah posisi berdiri terlalu lama, apalagi dalam kondisi harus berdesak-desakan.

Masalahnya, kondisi jantung ibu hamil umumnya tidak terlalu bagus. Terlalu lama berdiri akan menyebabkan oksigen tak sampai ke jaringan otak yang pada akhirnya dapat membuat ibu pingsan. Di sinilah pentingnya pengertian dan kesediaan penumpang lain memberikan tempat duduknya pada ibu hamil yang kebetulan berdiri.

TAMBAL GIGI

Tindakan medis terhadap ibu hamil harus dilakukan hati-hati, termasuk pencabutan gigi. Salah satu sebabnya karena kondisi geligi ibu hamil umumnya mudah berdarah lantaran adanya pelebaran pembuluh-pembuluh darah, disamping perubahan hormonal. La in hal jika pencabutan gigi terpaksa dilakukan, karena kalau dibiarkan malah akan menyebabkan infeksi yang akan memicu kontraksi dan memperbesar kemungkinan terjadinya kelahiran prematur.

Tak cuma pencabutan gigi, pemberian obat-obatan pun harus dengan pertimbangan matang karena dikhawatirkan berdampak buruk pada pertumbuhan janin, terutama pada kehamilan usia muda.

MENGEMUDI

Yang satu ini, bukannya tidak boleh, melainkan harus hati-hati dan lihat kondisi. Soalnya, akibat perubahan hormon terutama saat hamil muda, ibu kerap merasa akan pingsan. Padahal mengemudi haruslah dalam kondisi siaga/konsentrasi penuh. Nah, kalau tiba-tiba dunia terasa gelap, sangat mungkin terjadi kecelakaan, kan?

Di luar itu, para ahli kandungan sepakat, ibu hamil boleh mengemudi hingga usia kehamilan sekitar 7 bulanan atau saat perut masih relatif kecil dan posisi janin masih bebas bergerak dalam air ketuban.
Meski usia ke hamilan belum mencapai 7 bulan, mengemudi sama sekali tidak dianjurkan bagi ibu hamil yang sering mengalami perdarahan atau pernah melakukan aborsi. “Kecuali sangat terpaksa, mengendarai mobil boleh saja sepanjang ibu dengan kondisi itu tidak merasakan sakit, nyeri, mual, atau kontraksi berlebihan pada otot perut dan panggul.”

Jenis mobil yang dikendarai pun sebaiknya bersuspensi lembut, hingga getaran yang ditimbulkannya tidak terlampau hebat. Hindari mobil-mobil “kelas berat” dari kategori jip. Jauhi jalan yang berlubang-lubang atau bergelombang dan pilihlah yang relatif mulus. Kalaupun mengalami kontraksi ringan, sebaiknya istirahat dengan merebahkan posisi jok sampai kondisi normal kembali. Namun bila kontraksi berulang dan terasa cukup berat, segera konsultasikan ke dokter.

OLAHRAGA

Meskipun hamil, olahraga tetap diperlukan. Pilih mana yang cocok. Dengan begitu, selain tetap segar, ibu pun bisa mempersiapkan staminanya untuk persalinan. Yang pasti, jangan lakukan gerakan cepat, menghentak, maupun sambil mengangkat beban. Inilah olahraga lain yang tidak dianjurkan bagi ibu hamil:

* Seluncur (sepatu roda, ski, ice skating)

Selama hamil, baik yang sudah atau malah belum mahir berseluncur, sangat tidak dianjurkan melakukan permainan ini. Risiko terjatuh sangat tinggi. Belum lagi bila dilakukan di ruangan dingin yang kurang baik bagi daya tahan tubuh.

* Menyelam

Ada yang membolehkan olahraga ini dilakukan di masa kehamilan jika kedalaman airnya tidak mencapai 10 meter. Yang ditakutkan adalah ibu mengalami kram, tenggelam, kecelakaan atau terluka terbentur karang dan kehabisan tenaga di kedalaman air.

* Tenis Meja

Olahraga ini tidak dianjurkan karena memerlukan gerakan-gerakan menghentak. Namun kalau dilakukan sekadarnya dengan gerakan ringan, boleh saja. Jaga agar jangan sampai perut menabrak mej a permainan.

* Tenis

Boleh saja dilakukan asalkan tidak disertai hentakan dan gerakan berlari. Lamanya juga tidak lebih dari 30-40 menit. Untuk ibu yang hamil tua, sebaiknya pilih olahraga lain. Terlebih mereka yang mempunyai riwayat penyakit atau kelainan.

* Lompat Tali

Meski tampak ringan, olahraga ini sebetulnya sangat berat dan menguras tenaga, karenanya sangat tidak dianjurkan. Alasan lain, olahraga ini menimbulkan getaran vertikal ke tubuh yang sangat kuat. Belum lagi bertambahnya berat badan wanita hamil yang amat potensial menimbulkan ketidakseimbangan.

* Hiking

Sangat tidak dianjurkan bila areanya terjal. Tenaga ibu bisa terforsir yang dikhawatirkan merangsang kontraksi. Akan tetapi kalau ringan, tak masalah karena mirip dengan berjalan kaki.

* Boling

Bagi yang tidak terbiasa, sebaiknya tak perlu memainkannya selama hamil. Sedangkan bagi yang sudah terbiasa, sebaiknya pilih bola yang paling ringan dan hindari gerakan-gerakan yang terlalu agresif. Bila badan terasa tak nyaman, segera hentikan.

* Latihan beban

Bila dilakukan dengan beban yang ringan, tidak masalah. Mengangkat beban yang berat pada prinsipnya akan merangsang penegangan otot perut, hingga berpotensi merangsang kontraksi rahim.

MENGANGKAT BEBAN BERAT

Ibu hamil pun harus menghindari mengangkat beban-beban berat, termasuk menggendong anak atau mengangkut ember berisi air. Aktivitas ini bisa memicu kontraksi rahim akibat tekanan dari otot-otot perut. Bila terjadi terus-menerus dalam jangka waktu cukup lama bukan tidak mungkin mengakibatkan keguguran atau kelahiran prematur. Meski begitu, mengangkat barang dalam batas-batas normal tidak masalah. Sayangnya, tidak bisa ditentukan sampai berapa kg batas aman bagi setiap orang. Mau tidak mau ibu harus bisa menilai sendiri, apakah yang diangkatnya akan membebani p erutnya atau tidak.

BERKEMUNGKINAN JATUH

Untuk segala bentuk aktivitas yang berkemungkinan membuatnya terjatuh, ibu hamil mesti ekstrahati-hati. Semisal naik motor, sepeda, berjalan terburu-buru dan sebagainya. Bila benturannya mengarah ke bagian perut bisa menyebabkan kontraksi rahim yang amat berisiko menyebabkan keguguran atau kelahiran prematur.

Namun kalau benturan tersebut tidak terlalu keras dan tidak disertai gejala pendarahan atau rasa sakit, umumnya tidak perlu terlalu dicemaskan. Meski tentu saja tetap harus diperiksakan ke dokter dampak jatuh tersebut pada kondisi si janin. Terlebih bila sampai menyebabkan perdarahan atau timbul rasa sakit di sekitar bawah perut.

Hindari pula penggunaan sepatu/sandal berhak tinggi yang membuat ibu mudah terpeleset. Berhati-hati pula saat berjalan di tempat licin atau ketika harus naik-turun tangga.

Ada baiknya ubah tata letak barang di rumah dengan menghilang kan bagian-bagian yang berkemungkinan membentur perut agar ibu hamil bisa berlalu lalang dengan leluasa.

MEROKOK

Kandungan nikotin dalam rokok bisa memacu gangguan kontraksi. Timbunan nikotin dalam darah bisa menghambat aliran darah dari ibu ke janin melalui tali pusar. Dengan begitu, kemampuan distribusi zat makanan yang diperlukan janin juga akan terganggu. Belum lagi karbondioksida yang terkandung dalam asap rokok akan mengikat hemoglobin dalam darah. Akibatnya, kerja hemoglobin untuk mengikat oksigen sekaligus menyalurkannya ke seluruh tubuh, akan terhambat.

Dengan begitu, rokok meningkatkan risiko kelahiran bayi dengan berat badan rendah, di bawah 2500 gram. Terutama mereka yang merokok lebih dari 20 batang sehari. Risiko keguguran dan lahir prematur juga meningkat 2-4 kali lipat dibanding wanita bukan perokok. Belum lagi risiko perdarahan yang juga mengalami peningkatan.

Selama hamil, hindari asap rokok, karena bila ibu hamil menjadi perokok pasif ia bisa menyalurkan efek negatif itu kepada janinnya. Tingkat keparahannya hampir sama dengan yang dialami perokok sejati.
Jadi, usahakan menjauhi tempat-tempat yang terpolusi.

KOPI DAN TEH

Kopi dan teh mengandung kafein yang memiliki efek merangsang syaraf serta memacu kerja jantung dan otot. Bila dikonsumsi berlebihan bisa merangsang aktivitas syaraf yang pada akhirnya akan membebani kerja jantung, pembuluh darah dan ginjal. Meski begitu, konsumsi normal 2-3 cangkir sehari, umumnya tidak sampai berpengaruh ke janin karena prosentasenya sangat kecil. Toh, beberapa jam setelah diminum, umumnya
segera dikeluarkan tubuh bersama air seni, hingga tidak tertimbun dalam tubuh.

Namun bila dikonsumsi secara berlebih dengan kadar kekentalan tinggi, janin bisa terkena gangguan epilepsi. Risiko ini tentu saja mesti diperhitungkan. Hasil sebuah penelitian menunjukka n, kafein yang terkandung pada kopi berkaitan dengan proses pelepasan muatan listrik yang berlebihan dan tak teratur dari sel otak bayi mamalia yang kekurangan oksigen. Nah, kejadian serupa bisa dibayangkan bakal terjadi kalau kafein masuk terlalu banyak ke dalam tubuh wanita hamil lalu menembus otak janin.

PENGARUH ALKOHOL

Melalui tali pusatnya, alkohol yang dikonsumsi ibu hamil bisa berpengaruh terhadap janin. Bayi yang lahir dari ibu peminum memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan perkembangan mental maupun otak. Itulah mengapa, sangat dianjurkan untuk menghindari konsumsi minuman beralkohol selama kehamilan. Bahkan yang kecanduan pun, lebih baik menghentikan kebiasaan buruk ini sebelum memutuskan untuk hamil.
Alkohol yang diminum sebelum kehamilan tidak berpengaruh sama sekali pada janin lantaran akan dikeluarkan dari tubuh sehari kemudian.

SANGGAMA SELAMA KEHAMILAN

Pada prinsipnya, hubung an seks yang dilakukan selama kehamilan berjalan normal tak jadi masalah. Yang patut dipertanyakan, seberapa jauh sanggama aman dilakukan? Sulit sekali menegakkan aturan yang berlaku umum karena setiap pasangan memiliki standar yang berbeda.

Kendati begitu, di awal dan akhir kehamilan (setelah usia kehamilan mencapai 36 minggu atau lebih), intensitas hubungan suami-istri sebaiknya dikurangi. Saat ini, risiko keguguran relatif lebih tinggi dibanding masa pertengahan kehamilan. Selama sanggama dimungkinkan, atur posisi tubuh agar penis tidak masuk terlalu dalam. Usahakan pula agar tubuh suami tidak terlalu menekan bagian perut istri. Selain itu
hindari sanggama dalam waktu yang lama dan orgasme berulang-ulang karena saat orgasme adakalanya terjadi peregangan rahim dan kontraksi sesaat. Juga, aliran darah ke janin saat itu akan berkurang.

BEPERGIAN SENDIRIAN

Kalaupun ingin bepergian, usahakan jangan sendirian, terutama di usia kehamilan muda dan menjelang persalinan, ataupun wanita yang memiliki riwayat kehamilan bermasalah. Di usia kehamilan muda, biasanya ibu mengalami perubahan hormonal yang menyebabkan mual, muntah, pusing, bahkan bisa saja tiba-tiba terjadi blackout yang mengarah pada
ketidaksadaran. Bila hal itu terjadi saat tak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, tentu riskan jadinya. Demikian pula saat hamil tua, bukan tidak mungkin tahu-tahu muncul perdarahan, kontraksi, atau lemas. Kalau ada yang menemani, keluhan-keluhan seperti itu tentu akan lebih mudah diatasi.

Irfan Hasuki. Foto: Dok. nakita