ANTIBIOTIK
by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Antibiotik? Siapa Takut?
Mungkin begitulah kira2 pikiran kebanyakan pasien Indonesia ketika diberi resep oleh dokternya ketika berobat…karena sudah seringnya diberi AB, kita langsung aja meminumnya tanpa mempertanyakan dahulu apakah benar kita perlu AB? Lalu kapan sih kita perlu dan kapan tidak? Summary ini membahas dengan singkat apa itu AB dan beberapa topik yang berhubungan…..

Apa itu AB?
AB ditemukan oleh Alexander Flemming pada tahun 1929 dan digunakan untuk membunuh bakteri secara langsung atau melemahkan bakteri sehingga kemudian dapat dibunuh dengan sistem kekebalan tubuh kita. AB ada yang merupakan
1. produk alami,
2. semi sintetik, berasal dari alam dibuat dengan beberapa perubahan agar lebih kuat, mengurangi efek samping atau untuk memperluas jenis bakteri yang dapat dibunuh,
3. full sintetik.

Jenis AB:
1. Narrow spectrum, berguna untuk membunuh jenis2 bakteri secara spesifik.
Mungkin kalau di militer bisa disamakan dengan sniper, menembak 1 target dengan tepat. AB yang tergolong narrow spectrum adalah ampicillin dan amoxycilin (augmentin, surpas, bactrim, septrim).

2. Broad spectrum, membunuh semua jenis bakteri didalam tubuh, atau bisa disamakan dengan bom nuklir. Dianjurkan untuk menghindari mengkonsumsi AB jenis ini, karena more toxic dan juga membunuh jenis bakteri lainnya yang sangat berguna untuk tubuh kita. AB yang termasuk kategori ini adalah cephalosporin (cefspan, cefat, keflex, velosef, duricef, etc.).

Bakteri
Bakteri berdasarkan sifat fisiknya dapat dibagi menjadi dua, yaitu gram positif (+) dan gram negatif (-). Infeksi dibagian atas difragma (dada) umumnya disebabkan oleh bakteri gram (+) sedangkan infeksi dibagian bawah difragma disebabkan oleh bakteri gram (-). Biasanya, infeksi yang disebabkan oleh gram (+) lebih mudah dilawan. Didalam tubuh kita banyak sekali terdapat bakteri, bahkan salah satu kandungan ASI adalah bakteri. Jadi, sebenarnya, kebanyakan bakteri tidaklah “jahat”. Manfaat bakteri diusus kita adalah:
1. bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh.
2. memproduksi vitamin B & K.
3. memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak.
4. merangsang gerak usus sehingga kita tidak mudah muntah (konstipasi).
5. menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Sekarang kita tahu manfaatnya, jadi jangan lagi minum AB tanpa alasan yang jelas, karena hal ini akan membunuh bakteri yang baik tersebut.

Virus
Walaupun sesama mikro-organisme, virus ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan dengan bakteri. Mereka berkembang biak dengan mengunakan sel tubuh kita, jadi virus akan mati bila berada diluar tubuh. Catatan penting:
virus tidak dapat dibunuh oleh obat dan AB sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita, salah satunya adalah dengan demam. Demam merupakan bagian dari sistem daya tahan tubuh yang bermanfaat untuk membasmi virus, karena virus tidak tahan dengan suhu tubuh yang tinggi. Jadi apabila anak/anda mengalami demam, sebaiknya tidak diobati apabila suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi. Untuk petunjuk lebih lanjut, buka e-mail terdahulu yg
membahas demam.

When AB doesn’t work?
Menurut penelitian, ada 3 kondisi yang umumnya diterapi dengan AB, yaitu
1. Demam,
2. Radang tenggorokan,
3. Diare. Padahal, sebenarnya, penggunaan

AB untuk kondisi diatas tidaklah tepat dan tidak berguna. Dibawah ini petunjuk kapan AB tidak bekerja:
1. Colds & Flu
2. Batuk atau bronchitis
3. Radang tenggorokan
4. Infeksi telinga. Tidak semua infeksi telinga membutuhkan AB.
5. Sinusitis. Pada umumnya tidak membutuhkan AB.

Penggunaan AB tidak pada tempatnya dan berlebihan tidak akan menguntungkan,
bahkan merugikan dan membahayakan.

When do we need AB?
Dibawah merupakan beberapa jenis infeksi bakteri yang umumnya terjadi dan membutuhkan terapi AB:
1. Infeksi saluran kemih
2. Sebagian infeksi telinga tengah atau biasa disebut otitis media
3. Sinusitis yang berat (berlangsung lebih dari minggu, sakit kepala, pembengkakan di daerah wajah)
4. Radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus (umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih sedangkan pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami r adang tenggorokan karena kuman ini)

How do I know this is bacterial infection?
Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur yang membutuhkan beberapa hari untuk observasi. Contohnya apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, lab. mengambil sample urin dan kemudian dikultur, setelah beberapa hari akan ketahuan bila ada infeksi bakteri berikut jenisnya.

Efek Negatif AB
Dibawah adalah efek samping yang dialami pemakai apabila mengkonsumsi AB;
1. Gangguan saluran cerna (diare, mual, muntah, mulas) merupakan efek samping yang paling sering terjadi.
2. Reaksi alergi. Mulai dari yang ringan seperti ruam, gatal sampai dengan yang berat seperti pembengkakan bibir/kelopak mata, gangguan nafas, dll.
3. Demam (drug fever). AB yang dapat menimbulkan demam bactrim, septrim, sefalsporoin & eritromisin.
4. Gangguan darah. Beberapa AB dapat mengganggu sumsum tulang, salah satunya kloramfenikol.
5. Kelainan hati. AB yang paling sering menimbulkan efek ini adalah obat TB seperti INH, rifampisin dan PZA (pirazinamid).
6. Gangguan fungsi ginjal. Golongan AB yang bisa menimbulkan efek ini adalah aminoglycoside (garamycine, gentamycin intravena), Imipenem/Meropenem dan golongan Ciprofloxacin. Bagi penderita penyakit ginjal, harus hati2 mengkonsumsi AB.

Pemakaian AB tidak pada tempatnya dan berlebihan (irrational) juga dapat menimbulkan efek negatif yang lebih luas (long term), yaitu terhadap kita dan lingkungan sekitar, contohnya:
1. Irrational use ini juga dapat membunuh kuman yang baik dan berguna yang ada didalam tubuh kita. Sehingga tempat yang semula ditempati oleh bakteri baik ini akan diisi oleh bakteri jahat atau oleh jamur. Kondisi ini disebut juga sebagai “superinfection”.

2. Pemberian AB yang berlebihan akan menyebabkan bakteri2 yang tidak terbunuh mengalami mutasi dan menjadi kuman yang resistance terhadap AB, biasa disebut SUPERBUGS. Jadi jenis bakteri yang awalnya dapat diobati dengan mudah dengan AB yang ringan, apabila ABnya digunakan dengan irrational, maka bakteri tersebut mutasi dan menjadi kebal, sehingga memerlukan jenis AB yang lebih kuat. Bayangkan apabila bakteri ini menyebar ke lingkungan sekitar. Lama kelamaan, apabila pemakaian AB yang irrational ini terus berlanjut, maka suatu saat akan tercipta kondisi dimana tidak ada lagi jenis AB yang dapat membunuh bakteri yang terus menerus bermutasi ini.
Hal ini akan membuat kita kembali ke zaman sebelum AB ditemukan, dimana infeksi yang
diakibatkan oleh bakteri ini tidak dapat diobati sehingga angka kematian akan drastis melonjak naik.

Note: Semakin sering mengkonsumsi AB, semakin sering kita sakit. The less you consume AB, the less frequent you get sick.

Inappropriate AB Use
Berjuta2 resep ditulis yang mencantumkan AB untuk infeksi virus, padahal kita semua tahu AB tidak berguna untuk memerangi virus. Ada 3 alasan mengapa apparopriate use of AB ini terjadi, yaitu:
1. Diagnostic uncertainty.
2. Time pressure.
3. Patient Demand.”People don’t want to miss work or they have a sick child who kept the family up all night and they’re willing to try anyhing that might work”. It’s easier for the physician to give AB than to explain why it might be better not to use it.

Benar, seringkali kitapun sebagai pasien juga berperan didalam AB irrational use ini. Sudah terbentuk persepsi didalam pasien Indonesia, dimana kita beranggapan bahwa kalau pulang dari kunjungan dokter itu harus membawa resep. Malah akan aneh kalau kita tidak pulang dengan membawa resep. Hal ini justru mendorong dokter untuk meresepkan AB ketika tidak diperlukan.
Sebaiknya sikap ini sedikit demi sedikit kita hilangkan.

How Can We Help?
1. Rubah sikap kita ketika berkunjung ke dokter dengan menanyakan; Apa penyebab penyakitnya? bukan apa obatnya.
2. Jangan sedikit2 minta dokter untuk meresepkan AB. Jangan mengkonsumsi AB untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi tsb. tanya dokter bagaimana cara meringankan gejalanya, tetapi tidak dengan AB.
3. Tidak mempergunakan Desinfektan dirumah, cukup dengan air dan sabun. Hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit dengan daya tahan tubuh rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis, pemakaian steroid jangka panjang, dll.).

Battle of the Bugs: Fighting AB Resistance
Masalah bakteri yang kebal terhadap AB (AB resistance) ini telah menjadi masalah global dan sudah sejak beberapa dekade terakhir dunia kedokteran mencanangkan perang terhadap AB resistance ini.

Ada petunjuk yang dapat dilakukan untuk perihal pemakaian AB yang rasional, yaitu:
1. Kurangi pemakaian AB, jangan menggunakan AB untuk infeksi virus.
2. Gunakan AB hanya bila benar2 diperlukan dan mulailah dengan AB yang ringan atau narrow spectrum.
3. Untuk infeksi yang ringan (infeksi saluran nafas, telinga atau sinus) yang memang perlu AB, gunakan AB yang bekerja terhadap bakteri gram (+).
4. Untuk infeksi kuman yang berat (infeksi dibawah diafrgma, seperti infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, prneumonia, meningitis bakteri) pilih AB yang juga membunuh kuman gram (+).
5. Hindari pemakaian lebih dari satu AB, kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit.
6. Hindarkan pemakaian salep AB, kecuali untuk infeksi mata.

Rule fo Thumb
Bila anda memperoleh terapi AB, pertanyakanlah hal2 berikut:
1. Why do I need AB?
2. Apa yang dilakukan AB?
3. Apa efek sampingnya?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya efek samping?
5. Apakah AB harus diminum pada waktu tertentu, misalnya sebelum atau sesudah makan?
6. Bagaimana bila AB ini dimakan bersamaan dengan obat yang lain?
7. Beritahu pula bila anda mempunyai alergi terhadap suatu obat atau makanan, dll.

Final Message
Sebagai konsumen kesehatan yang bertanggung jawab, sebaiknya kita juga berperan aktif dengan cara menggali dan mempelajari pengetahuan dasar ilmu kesehatan. Dengan begitu kita akan menjadi konsumen kesehatan yang smart and critical. So, semoga tulisan ini dapat menambah pengetahuan dasar ilmu kesehatan para pembaca.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menentang pemakaian AB. Sebaliknya kita harus mengetahui bagaimana pemakaian AB yang benar dan tepat karena justru AB yang irrational akan menyebabkan AB menjadi impotent atau kehilangan manfaatnya.
Antibiotics save lives, therefore we also have to save Antibiotics.

A NEW THREAT TO YOUR HEALTH
ANTIBIOTIC RESISTANCE
by Dr. Purnamawati SpAK MMPed

Antibiotik merupakan salah satu obat terpenting yang pernah diciptakan manusia. Mengapa? Antibiotik membantu kita berperang melawan infeksi kuman/bakteri, oleh karena itu, antibiotik bisa menjadi penyelamat jiwa. Namun dengan berjalannya waktu, keampuhan antibiotik semakin memudar. Apa yang telah terjadi dengan antibiotik? Ternyata, penggunaan antibiotik yang membabi buta menyebabkan antibiotik kehilangan pamornya sebagai obat istimewa”. Saat ini, di seluruh belahan dunia, sebagian besar kuman penyebab infeksi serius sudah resisten (kebal) terhadap antibiotik. Kuman yang
resisten ini disebut sebagai “superbugs”. Besarnya permasalahan yang ditimbulkan oleh “superbugs” ini merupakan keprihatinan seluruh dunia.

Pada tahum 1995, berdasarkan penelitian bakteri resisten antibiotik, The American Medical Association (AMA mengeluarkan pernyataan yang keras. “The global increase in resistance to antimicrobial drugs, including the emergence of bacterial strains that are resistant to all available antibacterial agents, has created a public health problem of potentially crisis proportions”. Bakteri resisten antibiotik memang telah menimbulkan masalah kesehatan yang sangat serius di komunitas. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional bukan hanya “merugikan” individu yang bersangkutan (pasien yang memperoleh terapi antibiotik), melainkan juga merugikan lingkungan sekitarnya. Bila anggota masyarakat di suatu lingkungan mengkonsumsi antibiotik secara berlebihan (tidak rasional) maka lingkungan tersebut potensial terinfeksi oleh kuman yang sudah resisten antibiotik.

Tidak sedikit konsumen kesehatan maupun dokter yang masih menganggap bahwa antibiotik itu “obat dewa” alias “magic savers”. Konsep keliru ini segeralah tanggalkan. Hampir semua kondisi kesehatan diterapi dengan antibiotik termasuk infeksi virus seperti flu. Padahal, antibiotik “impoten” terhadap virus. Celakanya, justru anak-anak sangat sering memperoleh antibiotik. Hal ini sangat memprihatinkan, karena cepat atau lambat, kita akan “terpental” kembali ke era kegelapan, era pra antibiotik.

HISTORICAL PERSPECTIVES
Antibiotik an pertamakali diketemukan secara kebetulan di awal abad 20. Sejak itu, telah ditemukan berbagai antibiotik baru yang lebih kuat, lebih canggih. Namun demikian, sejak tahun 1998, praktis tidak ada lagi penemuan antibiotik baru. Padahal saat ini, para dokter sudah seperti berkejaran di “treadmill” (berlari – tetapi pada dasarnya jalan di tempat), terus mencari dan mempergunakan antibiotik yang lebih baru dan lebih kuat. Padahal, kalau perilaku penggunaan antibiotik tidak berubah menjadi rasional, dalam waktu singkat antibiotik baru tersebut (kalaupun ditemukan) juga menjadi “impoten”.

BACTERIA AND VIRUS – organisme yang sangat kecil (mikro-organisme)
Bakteri. Banyak sekali bakteri di dalam tubuh kita. Bahkan, salah satu kandungan di ASI adalah bakteri. Alam semesta pun penuh dengan bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri – tidak “jahat”, bahkan menguntungkan. Kita dan tubuh kita justru membutuhkan bakteri ini, mereka membantu kesehatan kita. Berdasarkan sifat fisiknya di laboratorium, secara garis besar bakteri dapat digolongkan sebagai bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif.

Virus. Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Mereka berkembangbiak dengan mempergunakan sel tubuh kita. Oleh karena itu, diluar tubuh kita, virus tidak berkembang biak. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik samasekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

LIVING WITH BACTERIA
Di dalam tubuh kita ditemukan banyak bakteri terutama di saluran cerna (mulai dari mulut sampai usus dan anus). Usus kita dipenuhi oleh kurang lebih 500 jenis bakteri dan berat bakteri di usus orang dewasa normal bisa mencapai 1.5 kg. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri memegang peran penting dalam sistem pencernaan kita. Apa gunanya usus kita dipenuhi bakteri?

1. Bakteri mengubah apa yang kita makan menjadi nutrisi yang dibutuhkan tubuh
2. Memproduksi vitamin B & vitamin K,
3. Memperbaiki sel dinding usus yang tua dan sudah rusak
4. Merangsang gerak usus (peristaltis) sehingga kitatidak mudah mengalami konstipasi
5. Menghambat berkembang biaknya bakteri jahat dan secara tidak langsung, mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat.

Nah, antibiotik yang kita makan, otomatis akan membunuh bakteri “baik” tersebut.

WHAT ARE ANTIBIOTICS?
Antibiotics are compounds isolated from one living organism that kill or inhibit the growth of other organisms. Antibiotik dibuat dari Molds/jamur; bakteri, atau intetik/semisintetik yang akan membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri yang menyerang tubuh.Antibiotik tidak dapat membasmi semua infeksi. Infeksi yang disebabkan virus (pilek-flu, sebagian besar radang tenggorokan, kebanyakan batuk) tidak dapat di”basmi” oleh antibiotik.

SLIDE 6. HOW DO I KNOW WHEN I NEED ANTIBIOTICS
When they can and can’t help?
Konsumen harus mengetahui kapan mereka memerlukan antibiotik dan kapan mereka tidak perlu mengkonsumsi antibiotik. Kesadaran seperti ini akan sangat membantu dokter karena tidak jarang, justru pasien yang minta diberi antibiotik. Penelitian menunjukkan, paling tidak, ada tiga kondisi yang umumnya diterapi dengan antibiotik:
. Demam
. Radang tenggorokan/Sore throat
. Diare

Penggunaan antibiotik yang berlebihan, tidak akan menguntungkan, bahkan dapat merugikan/membahayakan. Manusia dikaruniai Tuhan anugrah berupa antibiotik untuk membunuh infeksi bakteri, namun demikian, manusia jugalah yang merusak karunia tersebut dengan pola penggunaan antibiotik yang tidak bijaksana. Marilah kita jaga dan lindungi karunia ini. Antibiotics save us – we have to save antibiotics.

THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS
Long-term damage to individual & community
F Pemberian antibiotik yang berlebihan akan menyebabkan kuman2 yang tidak terbunuh mengalami perubahan diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan antibiotik. Kuman ini disebut “superbugs”. Selain itu, “superbugs” juga sering lolos dari serangan sistem imun tubuh karena perubahan diri tersebut menyebabkan sistem imun tidak dapat lagi mengenali si kuman. Superbugs memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien harus dirawat di rumah sakit karena antibiotiknya harus diberikan melalui selang infus.
Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu, dalam waktu cepat, bakterinya juga menjadi kebal terhadap antibiotik yang superkuat tadi.F Dampak negatif kedua pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak bijaksana adalah terbunuhnya “kuman baik” yang ada di dalam tubuh kita. Tempat yang semula ditempati mereka menjadi vakum dan kekosongan ini diisi oleh kuman “jahat” atau oleh jamur. Kondisi ini disebut sebagai “superinfection”.
Antibiotik adalah sumber alam, karunia Tuhan yang harus dipergunakan dengan bijaksana. Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan infeksi yang semula dapat dibasmi, kini justru semakin subur karena kumannya telah kebal.

WHY OVERUSE OF ANTIBIOTICS IS DANGEROUS?
Bakteri jahat akan menjadi resisten bila ANTIBIOTIK terlalu sering dipergunakan. Mengapa pemakaian antibiotik yang berlebihan berbahaya? Karena, yang akan dirugikan bukan saja pasien/individu yang memperoleh antibiotik – tetapi juga lingkungan sekitarnya (komunitas). Oleh karena itu antibiotik adalah satu2nya obat komunitas, obat yang berdampak terhadap lingkungan (ANTIBIOTICS are SOCIETAL MEDICINE).Dampak negatif individual. Antibiotik tidak lagi dapat membantu anda saat anda mengkonsumsinya di kemudian hari. Dampak negatif komunitas.

Kelompok bakteri yang resisten tersebut selanjutnya juga menginfeksi seluruh populasi tetapi TIDAK ADA ANTIBIOTIK yang MEMPAN – meskipun sebagian orang di populasi tersebut baru pertamakali itu memakai antibiotik yang bersangkutan

QONSEQUENCES OF RESISTANCE
Dr. Richard Novick membuat pernyataan seperti di bawah ini:
Antibiotics are given for everything from headaches to ingrown toenails; they are swallowed, sucked, injected and smeared; they are painted on cuts, dumped into wounds; fed to chickens-pigs spread on the floors of the hospital wards. Memang itulah kenyataan yang terjadi sehari-hari. Kita terlalu BOROS dalam penggunaan antibiotik yang bisa berdampak buruk sebagai berikut (CDC, Atlanta):

. Prolonged illnesses, increased risk of death
. Increased cost
. More toxic drugs
. Longer periods in which a person is contagious & able to spread the resistant bugs to the community

*Antimicrobial Use and Antimicrobial Resistance in Europe
*Principles of Appropriate Antimicrobial Use: The Common Cold – Key Message
*Antibiotics for The Common Cold. Benefit on Day 5?
*Propriate Antimicrobial Use: Sinusitis – Key Message
Sinusitis umumnya terjadi akibat infeksi virus flu atau pilek. Oleh karena itu, umumnya tidak memerlukan antibiotik. Terapi antibiotik hanya perlu diberikan bila:
– Sinusitis berkepanjangan lebih dari 10 – 14 hari atau,
– Sinusitis semakin berat (demam > 39.0 C, bengkak di muka sekitar hidung dan mata/facial swelling, rasa nyeri di daerah muka/facial pain)
*Duration of Symptoms in 139 Rhinovirus Colds
*Antibiotic Treatment of Sinusitis
*Principles of Appropriate Antimicrobial Use: Bronchitis – Key Message
Bronkitis adalah ITIS atau radang di saluran napas. Penyebabnya macam-nacam. Penyebab tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures), bisa juga karena sinusitis, reflux, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak “benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat – pneumonia belum tentu karena infeksi bakteria jadi belum tentu perlu antibiotik. Prinsip managemennya sama dengan batuk pada umumnya.
Anak-anak dengan batuk yang akut atau bronkitis, SELAMA TIDAK MENDERITA PENYAKIT PARU-PARU KRONIS, UMUMNYA TIDAK MEMERLUKAN ANTIBIOTIK. Antibiotik HANYA diperlukan bila anak menderita infeksi bakteri seperti pertussis (batuk rejan/batuk 100 hari) atau infeksi mycoplasma (memberikan gambaran foto ronsen yang khas).

*Appropriate Antimicrobial Use: Otitis Media – Key Message
Otitis media adalah itis di telinga (otic) tengah (media), radang telinga tengah. Penyebabnya umumnya adalah Virus, pasca infeksi hidung atau radang tenggorokan seperti cold/flu, atau masalah gigi Serangan atau episode otitis media dapat digolongkan atas:
– Acute otitis media (AOM) atau radang telinga tengah akut
– Otitis media with effusion (OME) atau radang telinga tengah dengan cairan
Terapi awal OME tidak memerlukan Antibiotik

*Appropriate Antimicrobial Use: Otitis Media – Key Message
Pada umumnya, sebagian besar atau mayoritas anak dengan serangan AOM akan sembuh sendiri (self-limited).
. Pada AOM, terapi antibiotik (5 – 7 hari) dapat dipertimbangkan bila anak tidak tergolong berisiko tinggi mengalami kegagalan terapi antibiotik.
Risiko kegagalan antibiotik pada AOM sebagai berikut:
– Berusia < 24 bulan – Sehari-hari, anak ditipkan di tempat penitipan anak (seperti kita ketahui, karena "kepadatan" suatu TPA, maka anak-anak yang berada di TPA, berisiko mengalami infeksi berulang terutama pilek dan batuk). – Dalam 3 bulan terakhir telah mempergunakan antibiotik (disini kita lihat, bahwa penggunaan antibiotik yang sering justru akan mengurangi keberhasilan terapi antibiotik) . Pasca terapi AOM, sudah dapat dipastikan bahwa cairan di ruang telinga tengah tidak akan langsung menghilang. Kondisi ini disebut sebagai OME yang menetap (persistent middle ear effusion) dan kondisi ini tidak berarti bahwa terapi antibiotik harus diulang. *Persistent Middle Ear Effusion (MEE) after Treatment of 1st Episode of AOM (Cairan di ruang telinga tengah yang menetap pasca pengobatan AOM) *Causes of Febrile Exudative Pharyngitis (Penyebab faringitis atau radang tenggorokan yang disertai dengan demam dan nanah – di tonsil/amandel) *Appropriate Antibiotic Use Berjuta-juta resep ditulis yang mencantumkan antibiotik untuk infeksi virus. Penelitian menunjukkan bahwa alasan yang dikemukakan para dokter ada 3 seperti yang sudah dikemukakan di slide 2. yaitu: . Diagnostic uncertainty . Time pressure . Patient demand HOW CAN PEOPLE HELP? . Jangan sedikit-sedikit meminta dokter untuk memberikan antibiotik. Jangan mengkonsumsi antibiotik untuk infeksi virus seperti flu/pilek, batuk, atau radang tenggorokan. Kalau merasa tidak nyaman akibat infeksi virus tersebut, tanya doikter bagaimana cara meringankan gejala tetapi bukan dengan antibiotik . DESINFEKTANT sebaiknya hanya dipergunakan di rumah sakit. Sehari-hari di rumah, kita tidak perlu mempergunakannya karena kuman di rumah umumnya adalah kuman baik. Di rumah – "Good water and soap are sufficient". Desinfektan mungkin hanya diperlukan bila di rumah ada orang sakit yang daya tahan tubuhnya memang rendah (pasca transplantasi, anak penyakit kronis yang memperoleh steroid, dan lain-lain). APPROPRIATE TARGETED AGENT Rule of thumb perihal pemakaian antibiotik yang lebih rasional: 1. Seandainya anak kita membutuhkan antibiotik, pilihlah antibiotik yang hanya bekerja terhadap bakteri yang dituju. Dalam hal ini, antibiotik yang narrow spectrum. 2. Untuk infeksi bakteri yang "ringan" (infeksi saluran napas atas atau infeksi telinga dan infeksi sinus) yang memang perlu antibiotik (seperti dikemukakan di slide sebelumnya), maka pilihlah yang bekerja terhadap bakteri Gram positif. 3. Untuk infeksi kuman yang berat, seperti infeksi di bawah daerah diafragma (infeksi ginjal/saluran kemih, apendisitis, tifus, dll) pilihlah antibiotik yang membunuh kuman Gram negatif. 4. Hindarkan pemakaian lebih dari satu antibiotik kecuali TBC atau infeksi berat di rumah sakit. 5. Hindarkan pemakaian salep antibiotik kecuali untuk infeksi mata. Antimicrobial Resistance Among Hospitalized Patients (Bakteri resisten antibiotik pada pasien rawat inap di rumah sakit) Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh di rumah sakit dan penyebabnya adalah kuman/bakteri rumah sakit. Bakteri di rumah sakit umumnya sudah resisten terhadap berbagai antibiotik dan kalaupun masih ada antibiotik yang bisa membunuhnya, maka antibiotik tersebut adalah antibiotik yang sangat kuat. Sebagai contoh, anak kita dirawat karena dehidrasi berat akibat diare. Kebanyakan diare pada bayi disebabkan oleh virus. Tetapi saat dirawat, anak kita memperoleh infeksi tambahan yaitu infeksi nosokomial, yang memerlukan antibiotik super canggih. Pusat penyakit menular di Atlanta (CDC) Amerika Serikat menyatakan bahwa setiap tahunnya sampai dengan 2 juta pasien mengalami infeksi nosokomial saat dirawat di rumah sakit. Kondisi ini menyebabkan sejumlah 90,000 kematian. Battle of the Bugs: Fighting antibiotic resistance Sudah sejak beberapa dekade terakhir ini, dunia kedokteran "mencanangkan" PERANG TERHADAP BAKTERI RESISTEN ANTIBIOTIK. Caranya? (1) Kurangi pemakaian antibiotik, jangan mempergunakan antibiotik untuk infeksi virus. (2) Pergunakan antibiotik hanya bila memang benar-benar diperlukan dan mulailah dengan antibiotik yang "ringan" atau narrow spectrum. (4) Kampanye penggunaan antibiotik yang rasional harus semakin dikumandangkan, termasuk pengaturan pemakaian antibiotik di bidang agrikultur.Mengapa kita harus "hemat" dalam penggunaan antibiotik? . Increasing antibiotic resistance threatens success of antibiotic treatment for common infections . Antibiotic overuse drives the spread of resistance ANTIBIOTIC MISUSE. Our window of opportunity is closing . Saat ini, bertambah satu lagi krisis yang dihadapi kehidupan dan manusianya. Penyakit-penyakit yang semula dapat disembuhkan (TBC, Gonorrhoea, typhoid/tifus) – saat ini sudah tidak lagi dapat "DITEMBUS" – akibat kondisi antibiotic resistance. . Suatu kondisi yang sangat serius – yang diperparah oleh perilaku overuse of ANTIBIOTICS . Oleh karena itu, masalah ANTIBIOTIC RESISTANCE bukan masalah dokter dan ilmuwan saja, MELAINKAN – MERUPAKAN MASALAH KITA BERSAMA. Everybody needs to help deal with this Lessons Learned Prescribers (docotrs) and patients are all part of the problem Dokter dan pasien – SAMA-SAMA "BERSALAH" perihal antibiotic resistance ini. FINAL MESSAGE. BE SMART AND CRITICAL CONSUMERS Drugs are much too serious a thing to be left to the medical profession and the pharmaceutical industry. Kata-kata di atas ditulis oleh seorang pakar ahli farmakologi klinik (ahli obat) di Australia. Memang benar, obat dan praktek pemberian obat, seyogyanya jangan sepenuhnya diserahkan ke tangan seorang dokter dan ahli farmasi. Sebagai konsumen kesehatan yang "bertanggung jawab", kita harus berperan aktif "melindungi diri kita dan keluarga kita" dengan cara, menggali dan mencari pengetahuan kedokteran serta belajar memahami kondisi yang kita alami. Dengan berbekal pengetahuan dasar ilmu kesehatan, maka Insya Allah, kita akan menjadi konsumen kesehatan yang "smart and critical".