http://cybermed.cbn.net.id/detil.asp?kategori=Health&newsno=3148

Health: Wednesday, 29 Jun 2005 9:47:33 WIB

Jakarta – Indonesia kini menjadi lahan subur bagi berkembanganya berbagai jenis infeksi yang telah resisten terhadap anti biotik. Hal itu dipicu oleh rendahnya disiplin pasien dalam mengkonsumsi anti biotik serta minimnya pengetahuan dokter dan rumah sakit (RS) tentang perkembangan resistensi mikroba di Indonesia.

Demikian diungkapkan ahli mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) Prof DR Dr Robert Utji kepada Pusat Data Persi usai konferenasi pers 2nd Symposium of Indonesia Antimicrobial Resistance Watch di Jakarta, kemarin.

Hal itu, terlihat dari merebaknya berbagai penyakit infeksi yang menjadi kasus luar biasa (KLB). Termasuk, KLB diare yang kini terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Utji menjelaskan infeksi dapat dipicu oleh bakteri, virus maupun jamur. Ia menyatakan, hingga kini kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi obat anti biotik masih rendah. Sebagian besar pasien tidak mematuhi aturan meminum obat seperti yang diresepkan dokter. Akibatnya, bibit penyakit dalam tubuh mereka menjadi resisten. Mereka pun berpotensi menderita penyakit yang lebih parah serta menularkannya pada orang lain.

Kondisi itu, lanjut Utji, juga diperparah oleh sikap kalangan medis yang tidak berupaya memperbaharui pengetahuannya tentang perkembangan mikrobiologi. Khususnya resistensi yang dialami berbagai mahluk micro biologi. Padahal, pengetahuan itu menjadi basis utama bagi mereka untuk menentukan metode pengobatan, jenis dan dosis obat anti biotika. Selain juga, tes laboratorium yang harus dilalaui pasiennya.

“Akibatnya, dokter tetap berkutat pada anti biotik amoxilin, padahal ada banyak bakteri yang kini telah kebal pada obat jenis itu. Sekarang ini muncul berbagai jenis bakteri, virus dan jamur baru yang setiap waktu terus bertambah. Akibat pemberian obat anti biotik yang kurang tepat, pengobatan pun tidak optimal dan bakteri dalam tubuh pasien justru tambah kebal,” ungkap Utji.

Selain itu, lanjut Utji, banyak dokter yang melakukan praktek pengobatan tanpa didasarkan evidence base practice atau diagnosa berdasarkan data laboratorium. Penentuan jenis penyakit dan metode pengobatan lebih sering ditentukan berdasarkan wawancara dengan pasien, tanpa disertai bukti yang memadai dari laboratorium.

“Untuk penyakit tertentu ynag tergolong ringan mungkin itu bisa, tapi untuk diagnosa penyakit setingkat tifus jelas tak bisa lagi ditentukan metode sesederhana itu,” kata Utji.

Hal serupa, juga dialami pihak RS. Banyak pihak RS yang kurang memahami pentingnya penegakan prosedur laboratorium yang tepat. Beberapa RS ditenggarai sengaja melanggar prosedur untuk menghemat biaya opearasional laboratorium.

“Ada RS yang sengaja mengurangi lapisan agar-agar yang digunakan sebagai media pembiakan kultur bakteri. Akibatnya, hasil laboratorium yang diperoleh pun tidak maksimal dan tidak bisa sepenuhnya dipertanggungjawabkan,” tegas Utji.

Akibatnya, kata Utji, di Indonesia kini muncul berbagai jenis penyakit infeksi baru. Selain itu, berbagai jenis infeksi lama juga merebak kembali. “Akibatnya, kini muncul varian baru jenis infeksi yang sebelumnya tidak dapat dideteksi,” ujar Utji.

Guna mengantisipasi masalah tersebut, simposium yang akan dihadiri kalangan ahli mikrobilogi, kedokteran serta farmasi pada 2-3 Juli di Jakarta itu ditargetkan dapat menelurkan sebuah konsensus prosedur laboratorium mikrobilogi klinis. Konsensus itu nantinya menjadi panduan yang terperinci bagi kalangan dokter dan RS dalam melakukan diagnosa maupun menentukan metode pengobatan pada pasiennya.

“Jika konsensus itu tidak terbentuk kita khawatir Indonesia akan berada dalam jurang bahaya. Karena, langkah yang kita lakukan selama ini tidak sebanding dengan pergerakan bakteri, virus dan jamur yang setiap waktu terus berkembang, dan sebagian diantaranya resisten,” kata Utji.(Iis)

Sumber: PdPersi