INTISARI EDISI TERBARU (APRIL 2005)

“Flek” yang satu ini pasti bikin pening kepala, terutama jika menyerang anak. Orangtua dan dokter pun sering dibuat serba salah. Tak jarang, gara-gara munculnya “flek”, anak divonis berpenyakit TB(C) paru-paru. Padahal sebenarnya ia sehat walafiat. Sebaliknya, bocah yang disangka sehat, malah terjangkit penyakit. Aneh, ‘kan?
—–
“Flek” yang suka mengecoh itu punya nama lengkap flek paru-paru (disingkat flek paru). Nama yang membuat banyak dokter anak bersungut-sungut. Maklum, sampai detik ini, istilah flek paru tidak pernah ada di dalam kamus kedokteran mana pun. Statusnya mirip dengan masuk angin, panas dalam, atau saraf kejepit. Ngetop di masyarakat, tapi tak ada rujukannya di dunia medis.
Entah siapa yang mulai menggunakan istilah ini. Yang jelas, kata flek berasal dari bahasa Belanda, vlek, artinya bintik alias bercak atawa noda.
Para ahli radiologi menggunakannya untuk menyebut gambaran noda yang khas di foto rontgen. Lucunya, belakangan istilah ini dipakai sebagai eufemisme untuk tuberkulosis (TB) paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Padahal, “Flek di foto rontgen tidak selalu berarti tuberkulosis,” kata
Dr. dr. Muljono Wirjodihardjo, Sp.A (K), ahli respirologi anak dari Rumah Sakit Internasional Bintaro. “Tuberkulosis pada anak berbeda dengan orang dewasa, sehingga diagnosisnya lebih sulit,” tambah dr. Muljono. Dengan kata lain, jangan terkecoh oleh flek yang memang suka menyaru dan membuat orang keliru itu.

Naik kelas
Pelacakan dan keberadaan TB pada anak dan orang dewasa memang berbeda. Kuman TB pada orang dewasa bisa dilacak dari dahaknya. Sedangkan pada anak-anak, kuman itu sulit dilacak, sebab mereka belum bisa berdahak seperti sang bapak. Selain itu, gejala TB pada anak sering tersamar oleh gejala penyakit lain, misalnya flu atau batuk. Tak jarang dokter menganggapnya sebagai batuk biasa.
Pada orang dewasa, gejala TB tampak lebih jelas. Gambaran radiologisnya pun khas. Tapi pada anak, ada banyak faktor yang bisa menyebabkan salah diagnosis. Kemal, seorang karyawan perusahaan asuransi, punya cerita tentang hal ini. “Anak saya pernah divonis TB. Waktu itu umurnya baru setahun. Awalnya, berat badannya enggak naik-naik. Dokter curiga, ia kena TB. Waktu dites Mantoux, hasilnya negatif. Lalu dokter minta tes rontgen. Ternyata ada flek di paru-parunya.”
“Dari hasil rontgen itu,” tambah Kemal, “Dokter menyimpulkan anak saya kena TB dan disuruh minum obat jangka panjang. Setelah tiga bulan, saya tanya apakah obat perlu diteruskan. Dokter bilang, terus. Namun, pada bulan keempat saya disuruh menghentikan pemberian obat tanpa ada penjelasan. Waktu itu saya enggak ngerti apa-apa. Tak tahunya, setelah mencari second opinion, anak saya sebetulnya enggak apa-apa,” tuturnya sembari geleng-geleng kepala.
Selama ini, TB identik dengan penyakit udik. Orangtua biasanya akan merunduk malu jika anaknya diketahui sebagai pengidapnya. Menurut dr. Muljono, dalil itu tak lagi berlaku 100%kini. Menurut pengalamannya, banyak juga pasien anak-anak dari kelas ekonomi mapan. Banyak di antara mereka yang enggak percaya. “Tertular dari mana? Wong di rumah enggak ada yang kena kok”, protes mereka.
Dr. Muljono mencatat, sumber penularan yang diketahui hanya sekitar 10%. Ada yang tertular dari baby sitter, orangtua, atau orang lain yang tinggal serumah. Selebihnya, yang 90%, biang keladinya tidak diketahui secara pasti. Yang jelas, si anak pasti tertular dari orang dewasa, bukan dari teman bermain. Sebab pada anak, TB bersifat tertutup, tidak menular. Kuman ini diyakini menular secara tidak langsung dari orang lain yang tidak tinggal serumah. Saat penderita batuk, kuman TB keluar dari paru-paru bersama percikan air ludah, lalu bertahan hidup sambil beterbangan di udara, dan akhirnya terhirup oleh si anak. Dalam tubuh anak, kuman ini bersarang di kelenjar getah bening. Itulah sebabnya, orangtua harus waspada jika si Upik atau si Ucok punya benjolan kelenjar getah bening di leher bagian belakang telinga.
Selain itu, orangtua juga bisa mengamati gejala-gejala yang lain. Di antaranya, batuk tak kunjung sembuh, gampang sakit, nafsu makan hilang, berat badan tidak naik-naik atau bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas. Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif, sehingga tidak selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa saja disebabkan oleh alergi atau asma. Sedangkan demam berulang-ulang bisa karena infeksi virus langganan.
Untuk memperkuat diagnosis, diperlukan tes-tes lain yang lebih akurat, seperti tes Mantoux dan foto rontgen dada. Tes Mantoux bertujuan menguji apakah tubuh pernah terpapar kuman TB. Sedangkan foto rontgen untuk mengetahui ada tidaknya infiltrat di paru-paru. Infiltrat adalah massa seperti dahak yang terjadi akibat aktivitas kuman TB.
Namun, lagi-lagi di tahap ini pun banyak hal yang bisa mengecoh diagnosis. Tipuan pertama timbul pada saat tes Mantoux. Kalaupun hasilnya positif, itu tidak berarti si anak pasti menderita TB. Dr. Muljono memberi contoh, anak yang pernah mendapat vaksin BCG akan memberikan respons positif terhadap tes Mantoux. Begitu pula anak yang pernah terpapar kuman TB, tapi daya tahannya cukup kuat untuk melawan. Jadi, meskipun kemasukan kuman, dia enggak sakit.
“Kalau kemerahan di kulitnya sangat tebal, misalnya lebih dari 20 mm, kemungkinan besar dia memang sakit. Apalagi jika benjolan di belakang telinganya juga sangat besar. Lebih-lebih jika ada riwayat anggota keluarga yang sakit TB,” tambah dr. Muljono.

Kuman paling bandel
Karena tes Mantoux saja tidak cukup, untuk memperkuat diagnosis diperlukan tes foto rontgen. Namun, di sini pun masih ada tipuan yang harus diwaspadai. Pada orang dewasa, foto rontgen biasanya menunjukkan gambaran flek paru di bagian atas. Sebab, di situlah kuman TB membangun sarangnya. Sebaliknya, pada anak-anak, kuman TB tidak membangun sarangnya di paru-paru bagian atas, melainkan di kelenjar getah bening.
Susahnya, lokasi kelenjar ini berdekatan dengan jantung. Jika hanya difoto dari depan, kadang flek tertutup oleh bayangan jantung. Apalagi jika teknisi rontgen kurang terampil. Itulah sebabnya, untuk memperkuat diagnosis, foto rontgen juga harus dilakukan dari arah samping. Dengan begitu, gambaran paru-paru tidak diganggu oleh jantung. Ruwetnya lagi, kalaupun hasil rontgen menunjukkan flek, tidak berarti si anak positif kena TB.
Muljono memberi contoh anak-anak yang sedang batuk grak-grok-grak-grok. Saat dirontgen, mungkin saja menunjukkan flek, meskipun ia tidak menderita TB. Karena itu, foto rontgen harus dilakukan pada saat anak dalam kondisi terbaik. Jika mungkin, setelah batuknya disembuhkan. Atau paling tidak, saat batuknya minimal.
Karena banyaknya faktor pengecoh itulah, diagnosis TB harus ditegakkan berdasarkan banyak pemeriksaan. Selain pemeriksaan-pemeriksaan tadi, masih ada jenis tes-tes lain. Masing-masing pemeriksaan punya skor tertentu. Jika misalnya total skornya enam atau lebih, maka itu berarti si anak memang menderita TB.
Jika orangtua perlu mencari second opinion, Muljono menyarankan agar pendapat kedua dicari dari dokter lain yang lebih kompeten dan berpengalaman. Bukan sekadar ke dokter lain. “Mencari second opinion ‘kan seperti naik banding. Karena itu, jangan sekadar ke dokter lain,” ujar dokter yang menyelesaikan pendidikan S1 sampai S3-nya di Keio University, Jepang, ini.
Bagaimana jika anak memang benar-benar menderita TB? Tak ada pilihan lain, orangtua harus siap-siap merayu si buah hati untuk minum obat setiap hari. Lamanya berkisar antara enam bulan hingga satu tahun. Selama waktu itu, orangtua harus memastikan si anak minum obat sesuai aturan dokter. Dr. Muljono menegaskan hal ini, karena banyak orangtua, karena kasihan pada si Buyung, lantas menghentikan obatnya begitu gejala sakitnya hilang. Padahal, hilangnya gejala sakit TB bukan berarti kuman telah terbasmi semuanya. Kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel. Ia tidak bisa dibasmi dengan satu macam antibiotik saja. Biasanya kombinasi dari beberapa obat anti-TB (OAT). Dalam kondisi digempur habis-habisan, ia akan berusaha mengawetkan diri dengan membentuk lapisan pelindung dan tidur tanpa makanan.
Ia bisa bertahan dalam kondisi itu dalam jangka waktu berbulan-bulan. Itu sebabnya, pengobatan TB membutuhkan kedisiplinan ekstra. Jika pengobatan dihentikan di tengah jalan, suatu saat zombie-zombie kuman itu akan bangun lagi dan menggerogoti tubuh si anak di kemudian hari. Jika ini sampai terjadi, pengobatan berikutnya menjadi lebih sukar. Waktu terapi pun menjadi lebih lama.
Kuman generasi kedua yang telah bereinkarnasi itu lebih kebal terhadap OAT terdahulu. Akibatnya, pemilihan obat menjadi lebih sulit. Orangtua harus menyiapkan lebih banyak duit. Persoalan pun jadi lebih rumit, karena makin sering minum obat, makin besar kemungkinan fungsi hati anak terganggu. Jangan sampai terkecoh berkali-kali, ah!

Boks
Anak-anak Hanyalah Korban
Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam pencegahan TB adalah menghindari penularan. Orangtua harus memastikan tidak ada anggota keluarga yang menderita TB. Jika ada, penderita harus segera diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain, terutama anak-anak. Mereka adalah kelompok paling rentan tertular karena daya tahan tubuh mereka relatif masih lemah.
Meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan, anak tidak menderita TB, ia tetap harus minum OAT. Dikhawatirkan, ia tertular selama masa pengobatan. Dosis untuk anak hanya setengah dari dosis terapi dewasa. Waktunya hanya sekitar tiga bulan. Setelah itu, anak harus tetap dievaluasi kembali. Jika hasilnya negatif, pemberian obat bisa dihentikan. Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus dimulai dengan pemberantasan TB pada orang dewasa. Merekalah sumber penularan. Anak-anak hanyalah korban. “Sekarang ini kasus TB pada anak mulai meningkat,” kata dr. Muljono. Di Indonesia sendiri, penyakit ini masih merupakan ancaman serius. Jadi, semua orang harus ikut mengingatkan, agar terapi benar-benar komplet-plet.