Majalah tempo edisi 21-27 maret 2005 halaman 58 (kesehatan) mengungkap tentang debat soal pemicu autisme. Zat pengawet vaksin bernama Teimerosal diduga menjadi pemicu autisme, mulai dilarang di AS.
Diceritakan seorang anak usia 1tahun 6 bulan setelah mendapatkan suntikan vaksin Mumps (gondok) menjadi bertingkah laku aneh, tiga bulan kemudian ia mendapatkan vaksin Measles (campak). Hasil tes biomedis menunjukkan adanya kadar merkuri yang tergolong tinggi dalam darahnya. Padahal kata ibunya, anak pertamnya yang telah berusia 10 tahun dan dulu juga disuntik MMR tetap sehat-sehat saja.
Vaksin untuk anak diketahui mengandung sejumlah zat kimia, seperti DPT dan hepatitis B mengandung aluminium dan etilen glikol, lalu dalam cacar ari dan MMR mengandung gelatin dan thimerasol yang mengandung merkuri. Zat thimerasol merupakan senyawa organik dan dikenal sebagai sodium etilmerkuri thiosalisilat yang mengandung 49.6% merkuri. Sejak 1930 zat ini digunakan sebagai bahan pengawet dan stabilisator dalam vaksin, produk biologis atau produk farmasi lainnya. Padahal dalam dosis tinggi merkuri bisa meracuni saraf manusia. Senyawanya menembus sawar darah otak dan dapat merusak otak. Tapi dari penelitian terhadap thimerasol sendiri masih mengambang bahkan di AS pun. Banyak lembaga di AS dan dunia yang menetapkan batas paparan merkuri ini.
Dan sejak tahun 1999 FDA merekomendasikan untuk mulai menurunkan atau menghilangkan thimerasol dalam vaksin, meskipun penelitiannya memakan biaya sekitar Rp 1.8-3.6triliun dan kini sebagian besar vaksin di AS sudah bebas thimerasol.
Di Indonesia masih banyak beredar vaksin yang mengandung thimerasol a.l. DPT, hepatitis B produksi BioFarma meskipun menurut bioFarma sendiri dosisnya yang 0.01% jauh di bawah persyaratan WHO yang 0.2% dan BioFarma sedang melakukan penelitian untuk mengurangi thimerasol apakah akan mengurangi khasiatnya atau tidak.
Nah bagaimana kita sebagai orang tua anak yang masih terus membutuhkan vaksinasi menyikapi hal ini?